Saya termasuk orang beruntung.
Kenapa? Saya punya dua pekerjaan paling menantang. Senin-Jumat sebagai sales di PT SITTI, the impossible company. Yang kedua, Sabtu-Minggu berubah menjadi Ranger di SENOPATI, EO yang sudah memberikan saya begitu banyak pengalaman selama 4 tahun terakhir.
Tetapi disini saya nggak akan membahas dua kegiatan saya diatas, saya akan bahas kegiatan tambahan saya yang ketiga. (Gila kerja? Hmm, nggak juga sih).
Kegiatan tambahan saya yang sejauh ini sudah berhasil saya sempilkan diantara jadwal pekerjaan saya adalah mempersiapkan pernikahan untuk diri sendiri. Weird!!! Loh kok aneh? Bukannya gampang ya kalo sudah biasa ngerjain event? Secara calon istri saya, Ocha, juga kerjaannya ngerjain event di tempatnya bekerja di Bandung.
Nope, nggak ada gampang-gampang nya, semua justru 10x lebih berat daripada ngerjain event orang lain. Padahal sebelumnya, buat saya ngerjain wedding itu lebih gampang daripada ngerjain outdoor event/outing. Ngurusin wedding itu enak. Diruangan ber-AC, nggak perlu begadang dan bangun subuh, urusan makanan juga nggak perlu ditanya. Jadi buat saya ngerjain wedding itu kayak makan gaji buta, nggak capek tapi dibayar mahal. Eh tapi ada satu kekurangan sih sebenarnya, yaitu peraturan tak tertulis yang nggak memperbolehkan saya untuk memakai sepatu kets. (Sumpah pake sepatu formal terus berdiri dan jalan kesana kemari tiga jam itu pegel banget!).
Oke kembali ke topik, kenapa urusan “hari H” ini menjadi sangat menantang sekaligus bikin pusing?
Pertama, karena saya mau semuanya sempurna (yaiyalah!!). Untuk acara ini, saya sudah kombinasikan tiga contoh rundown berbeda, yang isinya mungkin hampir sama. Detail yang sudah dibuat di cek lagi, lagi, lagi, dan lagi. Padahal mau di cek berapa kali tetap saja itu intinya. Kalo rundown bisa ngomong, mungkin dia akan bilang “Sob, udah nggak usah di cek terus, semua udah lengkap kok, nggak santai kayak di pantai deh lo”.
Kedua, keluarga juga turut campur. Hal ini menantang untuk saya. Kenapa? Karena saya secara natural nggak bisa tegas mengenai segala sesuatu yang berurusan dengan keluarga. Keputusan yang sudah diambil bisa berubah jika ada yang nggak setuju. Berbeda jika berhadapan dengan klien saya, mereka pada umumnya akan menerima saran yang saya berikan, karena dimata mereka saya adalah Resna, orang yang mereka bayar untuk menjalankan eventnya. Nah, kalau sama keluarga, saya adalah bagian dari mereka. Nggak mungkin saya pagi-pagi ngomong di microphone “Ya harap semua keluarga sudah bersiap dan berkumpul di lobby karena sebentar lagi kita akan menuju venue, yang tidak ada akan saya tinggal”.
Kalau begini kejadiannya bisa jadi ada dua respon, yang pertama: “Yaudahlah, Resna ini, masa’ keponakan mau ninggalin om/tantenya…”
Dan respon yang kedua mungkin agak lebih ekstrim: “HEH!!!, durhaka siah ka kolot!!!! Pikasebeuleun pisan budak teh”.
Dan hal inilah yang membuat saya memutuskan bahwa urusan keluarga lebih baik dilakukan oleh orang lain yang bukan keluarga.
Ketiga, ini faktor paling penting yaitu psikologis. Empat tahun saya terbiasa menjadi tumpuan orang untuk menjalankan event/wedding-nya, Terbiasa untuk ‘dicari’ disaat sesuatu hal tidak berjalan sesuai apa yang sudah direncanakan. Terbiasa untuk cek makanan apakah sudah ada atau belum. Terbiasa untuk cek pengisi acara sudah tiba dilokasi atau belum. Serta sejumlah hal lain yang sudah terbiasa saya lakukan ketika mengerjakan sebuah event. Ketika semua ini dibalik rasanya aneh loh, saya harus mempercayakan orang lain untuk mengontrol hari H pernikahan saya. Sebagai info, Project officer yang ditunjuk adalah teman saya, Teddy, marcomm coordinator di salah satu radio swasta yang kerjaannya bikin event melulu. Lalu ada lagi dua koordinator, Rika dan Raina, keduanya merupakan adik saya. Rika bekerja sebagai marketing support di salah satu BUMN, dia juga terkenal suka marah-marahin vendor kalo eventnya nggak lancar (didukung pula dengan muka juteknya). Raina juga bekerja sebagai EO di semarang, dan sekarang lagi meng-handle roadshow biskuit yang jika dimakan kita bisa jadi macan
Jika melihat spesifikasi orang-orang diatas, seharusnya saya udah tenang, karena event saya ditangani oleh orang-orang handal yang mengerti apa yang mereka sedang kerjakan. Tapi balik lagi, saya tetap saja tidak tenang. Jika boleh pengantin memakai ear piece + communication set pas hari H, mungkin saya akan pakai. Jadi saya bisa dengar semua report, hehehe. Saya bahkan sudah merencanakan akan dateng subuh-subuh pas hari H untuk cek dekorasi (yang sabar ya vendor dekorasi).
Anyway, kurang lebih beginilah perasaan saya beberapa bulan terakhir. Berlebihan? Iya sih.. Perasaan campur aduk tapi menantang. Saya harus jalan tanpa support dari rekan-rekan di SENOPATI, karena mereka akan datang sebagai tamu.
Satu inti yang saya pelajari dari proses ini (walaupun saya akui, saya bukan orang yang religius). Bahwa ketika saya sudah berusaha sepenuh hati, mungkin ada saatnya saya untuk duduk tenang, tarik nafas dalam-dalam dan menyerahkan segala sesuatunya kepadaNYA.
Resna Raniadi
@raniadiresna
Assistant Manager Of Sales