Lihat KIRI Lihat KANAN
Seumur hidup saya sebagai orang Indonesia, saya selalu mendengar bahwa jutaan anak bangsa ini masih tidak bisa mendapatkan pendidikan yang cukup. Bahkan saya sempat mendengar bahwa ada 11.7 juta anak yang putus pendidikan di tahun 2009.
Saya sedih tapi nggak punya solusi. Saya prihatin tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Tapi saya tetap mau bertanya…
Kalau artikel seperti ini ditulis, biasanya kalimat berikut yang saya tulis dimulai dengan “Pemerintah seharusnya bla blab bla…”. Well, I am not going to do that. Boleh sih saya dipanggil skeptis, tapi pikiran saya hanya dari satu sisi, tulisan saya ini tidak mungkin membuat pemerintah kita melakukan apapun. I mean… “Siapa situuu?” kata orang pemerintah yang kemungkinan anak gaul.
Saya mau lebih pragmatis. Saya mau ngeyel dan bertanya kalau di negara yang kita cintai ini bisa ada 30 juta pengguna Facebook, kenapa sih kita nggak bisa kasih adik-adik kita yang jumlahnya hanya 11.7 juta itu untuk mendapatkan pendidikan mereka di Internet?
Kalau penetrasi Twitter di Indonesia yang mencapai 20.8% ini adalah salah satu yang tertinggi di dunia, kenapa sih kita nggak bisa kasih solusi untuk anak-anak putus pendidikan dengan melakukannya lewat Internet?
Kalau 2.7 miliar kali orang Indonesia bisa datang dan mengetik sesuatu di Google.com, kenapa ya kita nggak bisa membuat suatu aktifitas untuk adik-adik kita ini?
Saya tidak memberikan solusi karena saya bukan politisi, educator apalagi orang pemerintah. Saya hanyalah seseorang yang percaya bahwa dengan perkembangan internet sebesar 1150% di Indonesia, kita pasti bisa melakukan sesuatu untuk adik-adik kita yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan mereka di bangku SMA bahkan SMP.
Saya percaya bahwa dengan internet, banyak sekali sektor yang dapat ditingkatkan termasuk pendidikan. Sekolah online adalah contoh yang paling mudah.
Sekarang pertanyaannya, maukah kita berpindah dari pendidikan konvensional ke sekolah digital? Apakah kita mampu memiliki standar pendidikan online yang sama bagusnya dengan pendidikan konvensional? Apakah kita ingin bangsa kita terhapus dari kebodohan dan kemiskinan? Tentu saja.
Pilihannya ada di tangan kita. It’s about the choices we make.
@AndySjarif
CEO SITTI
As posted on Market+ edisi 18 | Mei 2011
RA Kartini 2.0
Sarah Lacy bukan nama yang dikenal orang banyak, kecuali jika Anda bekerja di dunia teknologi seperti saya. Sarah Lacy adalah seorang wanita Amerika yang bisa dilbilang sangat powerful di dunia teknologi. Dia adalah Editor At Large dari sebuah portal di Silicon Valley yang bernama Techcrunch.com. Techcrunch itu sebuah portal yang menjadi kiblat orang2 teknologi di dunia karena berita dan tulisan-tulisannya yang mendalam. Orang-orang seperti Steve Jobs, CEO dari Google, Yahoo dan para venture capitalist di sana, semua baca Techcrunch.
Saya kenal sama Sarah karena dia pernah juga menulis tentang SITTI (kalau mau baca artikelnya, Google aja “andy sjarif techcrunch”). Minggu lalu dia ada di Indonesia dan kita berjanji untuk ketemuan. Saya agak kaget karena dia ternyata sedang hamil 4 bulan. Kehadirannya di sini adalah karena ia diminta berbicara di 7 kota di Indonesia tentang teknologi dan bisnis. Keliling 7 kota di Indonesia dalam kondisi hamil 4 bulan datang jauh dari Amerika, wow, saya sangat kagum dengan wanita satu ini. Ketika sedang makan malam sama ibu hamil satu ini (kita makan kepiting saos pedas! Pernah liat bule makan kepiting saos pedas nggak? Scary! Hahaha….) saya menyadari satu hal: “technology is the great equalizer between gender”.
Di jaman purbakala kayaknya agak susah untuk wanita bersaing dengan laki-laki dalam hal berburu dan mencari makan, arena itulah mungkin para wanita di rumah mempersiapkan makan sedangkan laki-laki berburu. Namun sekarang dengan teknologi, kemampuan laki-laki tidak bisa dikatakan lebih lagi karena semuanya bisa dilakukan tanpa otot. Bayangkan seorang Sarah Lacy yang karena memiliki wawasan di bidang tekologi, bisa menjadi penulis buku dan editor portal teknologi terkemuka sehingga sang suami bisa kuliah lagi dan Sarah menjadi pencari nafkah keluarga mereka.
Sarah menulis, di-upload di Techcrunch.com, dan jutaan orang membaca tulisannya. Saya kasih contoh lokal. Inge, istri teman saya, selama 13 tahun bekerja sebagai seorang karyawati. Suatu hari ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Sekarang, karena iseng, ia jualan barang-barang bekas di Facebook. Tiga bulan pertama penghasilannya sudah sama dengan gaji dia selama satu tahun. Impressive! Inge menggunakan teknologi sebagai fondasi untuk menghasilkan pendapatan yang lebih dari pekerjaaan dia sebelumnya. Inge juga seorang wanita.
Dunia teknologi membuka pintu dan menghancurkan “glass ceiling” yang sebeumnya terpasang ketat untuk wanita. It’s the great equalizer between gender. Lewat tulisan ini saya ingin memberikan salut saya ke wanita-wanita seperti Sarah Lacy, Inge dan mereka yang sudah menghancurkan glass ceiling demi kesetaraan gender. Saya memberi hormat saya kepada mereka yang saya sebut sebagai para RA Kartini 2.0.
Selamat Hari Kartini!
@AndySjarif
CEO SITTI
As posted on www.marketplus.co.id
http://www.marketplus.co.id/2011/04/27/ra-kartini-20/
Yuk Punya Properti di Web!
Teman dekat saya, Anton, adalah seorang juragan properti di Jakarta. Dia pernah bilang ke saya bahwa kalau kita lempar biji jagung ke langit, kemungkinan akan jatuh di tanah, rumah, apartemen atau gedung milik dia.
Nah saya tidak berani bicara soal properti karena tidak seperti Anton, properti milik saya hanya satu Kijang Innova hitam yang kemarin ditabrak pak bajaj yang lagi ngantuk. Tapi saya di sini memberanikan diri untuk berbicara tentang properti yang tidak bisa disentuh dan tidak ada surat hak miliknya. Dalam bahasa Inggris, yang saya bicarakan ini biasa disebut web property.
Setiap situs itu ada halamannya. Ambil saja contoh si Solihin, OB di kantor SITTI. Dia punya situs mempromosikan dirinya sebagai cowok metropolitan yang bekerja di perusahaan teknologi di Jakarta. Gadis-gadis di kampung Solihin sering “datang” dan masuk ke situs Solihin ini. Pertama satu atau dua orang. Lama kelamaan 217 gadis single di kampung Solihin mulai secara rutin mendatangi situs Solihin ini.
217 gadis datang dua kali sehari. Artinya gadis-gadis single yang banyak dari pesantren ini memberikan 2 pageview seharinya. Pageview, adalah sebuah terminologi yang mendeskripsikan berapa kali suatu halaman situs dibaca (baca:view) oleh mata orang.Dengan kata lain, situs Solihin si anak metropolitan mampu mendatangkan 434 pageview/hari (217 x 2). Coba bayangkan dalam setahun, situs si Solihin ini akan dapat mendatangkan pageview sebanyak 158.410 (434 x 365 hari)!
Dengan begitu, waktu Solihin mudik, dia bisa jualan pageview ini ke warteg Ibu Jurhada supaya mulai beriklan di situs “Solihin Anak Metropolitan” karena dilihat 158.000 kali dalam setahun oleh gadis-gadis kampungnya.
Ini adalah esensi web property. Tidak bisa disentuh atau diukur secara meter persegi tapi tetap ada harganya.
Punya blog? Kalau belum, buatlah blog. Buatlah situs seperti Solihin. Karena setiap halaman situs atau blog adalah web property yang bisa menghasilkan uang. Kalau malas jualan iklan sendiri, di sinilah SITTI bisa membantu. Datang ke sitti.co.id, download skrip SITTI lalu pasang di blog Anda. Dengan begini, halaman Anda sudah termasuk secara otomatis menjadi bagian dari pageview yang dijual oleh tim SITTI lalu penghasilannya mayoritas untuk Anda. Dengan demikian Anda tidak harus menjual halaman Anda satu persatu karena berdasarkan data bulan September 2010 hingga Januari 2011, total pageview SITTI sudah mencapai 272 juta. Setiap halaman akan mendapatkan pemasukan berdasarkan konteksnya masing-masing.
Dengan pageview sebesar itu, siapa yang tidak tergiur? Anton si juragan properti pun akan ngiler untuk beriklan di SITTI. Sedangkan Solihin, puas dengan peforma situs “Solihin Anak Metropolitan”, bukan tidak mungkin membuat situs-situs lain seperti blog “Kisah Solihin OB Juara” atau situs “Makan Siang Murah Meriah” untuk menggapai cita-citanya menjadi koki terkenal. Sehingga kali lain saya lempar biji jagung ke langit web, kemungkinan akan jatuh ke salah satu properti milik Solihin.
Ah Solihin meuni keren pisan!
@AndySjarif
CEO SITTI
As posted on www.marketplus.co.id, click http://bit.ly/epeKYP
Nubruk Sampai Pecah
Kalau berdasarkan thesaurus bahasa Inggris, kata-kata breakthrough memiliki definisi sebagai berikut: “Improvement, progress in development” Dengan kata lain, breakthrough adalah sesuatu perkembangan positif atau progres yang diharapkan. Terlalu akademis menurut saya. Bikin ngantuk.
Saya lebih suka versinya Solihin, si OB di kantor saya. Dia bilang bahwa break itu pecah dan through itu “nubruk”. Jadi untuk dia breakthrough artinya menubruk sesuatu sampai pecah. Saya sangat suka definisinya Solihin. Because of its utter simpli city. Selain itu menubruk sampai pecah bisa diartikan dalam banyak hal tanpa basa basi akademis seperti “perkembangan atau progress yang diharapkan”.
Dalam berkarya, sesuatu yang memiliki karakter dan keunikan sendiri hanya bisa diberikan ke mereka yang berhasil melampau batas-batas normatif. Kalau tidak, apapun itu, hanya sesuatu yang sering kita bilang masuk dalam kategori “biasa banget”.
Di dunia teknologi, nubruk sampai pecah dilakukan oleh Steve Jobs dan Apple. Sebelum mereka buat iPad, kita selalu bilang bahwa komputer harus ada tombol-tombol huruf seperti mesin ketik. Apple bertanya, “Kenapa harus begitu?”. Dan mereka membuat iPad dengan design yang sangat simple tetapi sangat user friendly dan very very cool. The rest is history karena Apple nubruk sampai pecah semua batas-batas normatif sebuah komputer.
Kita lihat Google dengan sistim advertising mereka yang disebut AdWords. Di jaman di mana semua perusahaan membeli sistem iklan banner dangan gambar – gambar menarik di Internet, Google bilang, “Kenapa nggak text aja ya?”. Sekarang iklan text Google yang awalnya disebut membosankan itu menjadi benchmark iklan internet sampai menguasai hampir 60% dari share advertising di internet. Sekali lagi, Google menubruk sampai pecah batas – batas normatif iklan di Internet.
SITTI adalah perusahaan start up yang saya rintis sejak setahun yang lalu. SITTI juga dimulai dengan bertanya, “Kalau perkembangan populasi Internet di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia, kenapa ya pemain bisnis internet terbesar di Indonesia tidak ada satu juga pemain lokal?” Gak percaya? Coba lihat Top 5 situs yang paling sering diakses sama orang Indonesia. Facebook, Google.com, Google.co.id, Blogger, Yahoo. Pemain lokalnya ke mana ya?
Saya suka Facebook. Saya cinta Google. Istri saya punya blog pake Blogger. Email saya pakai Yahoo. Saya nggak peduli mereka pake merah putih atau tidak. Saya peduli mereka memberikan saya servis yang saya mau.
Saya adalah Anda semua. Di Internet, saya nggak pake merah putih atau baju merah dengan garuda di dadaku. Saya pakai satu topi; my own self interest. Jadi saya sebagai bagian dari SITTI bertanya lagi: Pemain lokalnya ke mana ya?
Di sinilah saya akhiri artikel ini. Karena SITTI baru mulai bertanya. Jadi kita mau nubruk dan mau sampai pecah. Kita mau menjadi breakthrough. Tapi sampai saat itu terjadi, saya hanya ingin bertanya dan berharap bahwa banyak pemain digital lainnya yang juga bertanya. Siapa tahu dengan bertanya seperti Apple dan Google, beberapa tahun lagi kita bisa bilang bahwa di dunia digital kita sukses jadi tuan rumah di negara sendiri.
Gubrak! *kan begitu bunyinya nubruk.
@AndySjarif
CEO SITTI
As posted on www.marketplus.co.id, click http://bit.ly/gLYZYa
#ketemuSITTI: To blog or not to blog
“To blog or not to blog?”
Itu adalah tema #ketemuSITTI yang diadakan pada tanggal 11 November lalu di Anomali, Setiabudi One, Jakarta. Menghadirkan Bapak Blog Indonesia, Enda Nasution, di acara ini dibahas tuntas pentingnya ngeblog sebagai sarana menguangkan passion kita. Enda mengemukakan bahwa ngeblog jaman sekarang lebih seru dibanding beberapa tahun lalu. Lewat ngeblog kita bisa menuangkan isi pikiran, ajang bertukar informasi dan bahkan bisa mendapat penghasilan tambahan. SITTI sebagai platform iklan teks kontekstual bisa membantu blogger dalam hal ini.
Di kesempatan yang sama, Sekar Sosronegoro dari SITTI juga menjelaskan cara kerja mesin SITTI, bagaimana aplikasinya di dalam blog dan bagaimana cara menjadi publisher SITTI.
Nggak cuma itu, #ketemuSITTI juga jadi ajang temu langsung bagi para blogger dan Twitterati.
Tertarik ikutan nongkrong bareng? Nantikan #ketemuSITTI berikutnya!
SITTI, Techcrunch dan Mpek Mpek Palembang
Sabtu pagi jam 7, BB saya berbunyi keras. Teman lama saya di Amerika yang sudah 4 tahun nggak pernah berhubungan mengirim email. Pesannya simple dan pendek, “Read your name on Techcrunch. Very cool.”
Saya lompat dari tempat tidur dan membuka laptop saya. Di situ, di depan mata saya, ada artikel di Techcrunch tentang SITTI yang ditulis oleh Sarah Lacy. Terus terang, reaksi pertama saya adalah “shock abiis”. Saya memang cukup yakin akan ada tulisan tentang SITTI. Tapi saya berpikir bahwa SITTI akan ditulis sepanjang satu paragraf bersama perusahaan teknologi lainnya. Jelas saya tidak mengira satu artikel hanya tentang SITTi saja akan ada di Techcrunch.
I mean… Techcrunch jo! Bukan blog pribadinya si Jono.
“Tenang. Tenang. Nafas. Pelan-pelan,” Itu yang saya bilang ke diri saya.
Lalu saya bertanya pada diri sendiri, “Apa sih artinya ini?”. Selain nama saya sekarang jadi lebih terindex oleh Google, apakah artikel ini membuat SITTI menjadi lebih dari hari Jumat sebelum artikel ini keluar?
Fakta. SITTI adalah start up yang belum menghasilkan uang kecuali Rp 630 ribu dari penjualan teh botol si Udin.
Fakta. SITTI belum menerima komitmen pengiklan walaupun sudah melakukan iklan testing dengan lebih dari 600 brands.
Fakta. Saya masih gendut.
Fakta. SITTI boleh saja menantang Google. Tapi realitanya kita bukan apa-apa kalau di bandingkan dengan the mighty Google,inc.
Intinya bukan saya tidak merasa berterimakasih dengan tampilnya SITTI di Techcrunch. Saya sangat berterima kasih dan merasa bersyukur untuk komunitas teknologi negara ini yang mendapat atensi dunia. Walaupun baru dalam satu artikel. Saya sangat bersyukur.
Tapi secara pragmatis, saya harus melihat dari sisi lain. SITTI sebentar lagi akan berkompetisi dengan pemain terbesar dunia. Pemain yang belum pernah terkalahkan oleh siapapun dalam dunia “contextual advertising”.
Kami, Luke-SITTI-Skywalker sebentar lagi akan berhadapan dengan Yoda-Google yang bisa terbang sambil berantem. Hiii serem.
Maka dari itu. Artikel ini besar untuk kami di SITTI. Artikel ini besar untuk teman-teman di dunia teknolgi di Indonesia. But talk is cheap.
Sekarang waktunya untuk kami di SITTI bekerja dan berkompetisi dengan sang Mahaguru kami, Mbah Google,inc.. Untuk hal ini, kami tidak mungkin bisa menang kalau hanya kami sendiri.
Di blog posting ini. Sekarang. Saya mencancapkan bendera merah putih tidak untuk berperang. Tapi untu meminta pertolongan. Kami di SITTI perlu bantuan.
Kalau kamu blogger atau pemilik situs: Pasanglah SITTI di blog dan situsmu. Datang. Daftar dan pasang SITTI dari belajarsitti.com. Bukan karena kami bawa bendera merah putih, tapi karena kamu mau bikin uang. Simple. Jadikan SITTI sebuah alat untuk mandatangkan pemasukan tambahan. Kalau ada sejuta yang pasang SITTI di blog masing-masing, kita bisa berteriak bahwa ekonomi internet di negara ini bukan milik Google,inc. Tapi milik kita semua.
Para pengiklan, besar dan kecil: Beriklanlah di internet. 45 juta pengguna Internet Indonesia menunggu Anda semua. Mau beriklan pakai banner, ad network atau pasang di sittibelajar.com, silahkan.
Jumlah pengguna Internet sudah berkembang sebesar 1150% 9 tahun terakhir.
Kami adalah sebuah ledakan. Ledakan populasi yang menunggu pesan-pesan iklan Anda yang kreatif, baik, buruk dan membosankan (kan ada iklan yang bikin ngantuk).
Sekali lagi, jangan beriklan di SITTI karena kami berwarna merah putih. Lakukan karena mesin SITTI yang sudah belajar dari 600 juta halaman situs Indonesia bisa membantu bisnis anda. Besar, kecil, UKM, sampai warung bu Neni di Mampang Prapatan.
Artikel Techcrunch tentang SITTI adalah sebuah awal. Bukan akhir. Kami baru mau mulai dan kami perlu bantuan semua pihak.
Tolooooong.
Bantu kami tanpa rasa nasionalisme. Bantu dengan rasa narsisme. Pikirkan diri sendiri secara kolektif. Karena mungkin dengan berpikir narsis, bendera merah putih tidak akan berkibar di sini, tapi di depan kantor Google di Moutain View. Lengkap dengan lagu “Tak Gendong”-nya Mbah Surip.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Google, saya tidak mau mengakhiri blog post ini dengan menyebut nama mereka lagi. Ntar dibilang mancrush lagi sama Techcrunch.
Saya akan mengakhiri posting ini dengan hal lain. Mpek Mpek Palembang.
Kenapa Mpek Mpek? Well, saya suka banget Mpek Mpek. Saya selalu niat untuk berdiet. Tapi kalau ada Mpek Mpek dan teh botol, niat itu bablas.
Sekarang, sudah waktunya SITTI untuk bekerja. Bukan hanya berniat seperti saya dan diet saya.
@AndySjarif
Founder SITTI
Mpek Mpek fans club
1, 2, 3, 4, 5
Deretan angka di atas terkesan sederhana. Tapi di balik kesederhanaan bentuk itu tersimpan arti dan keberadaan yang sangat penting. Apalagi dalam urusan hubungan “pemasang iklan” dan “publisher”, terkadang angka-angka tadi jadi urusan yang cukup njelimet.
Agar terhindar dari ancaman vertigo sesaat gara-gara urusan angka, mari berurusan dengan analytics system. Dalam dunia analytics, hukum pertama yang harus diterapkan adalah:
“Kedua belah pihak harus sepakat untuk menerapkan analytics system yang sama, yang dipasang dan dapat diakses oleh kedua belah pihak”.
Kenapa harus sama? Alasannya simple: agar tidak ada miss-communication antara publisher dengan pengiklan dan tidak ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Sama halnya seperti jika kita berada di pasar, 1 kg di toko A harusnya sama beratnya dengan 1kg di toko B, di toko C, D, E sampai Z. Disini “penjual” dan “pembeli” sama-sama menikmati suasana yang mendukung prosses transaksi mereka. Hukum sederhana ini juga seharusnya berlaku dalam hubungan pemasang iklan-publisher di dunia online.
Deret angka yang kelihatannya sederhana itu penting bagi pengiklan, karena dengan angka inilah mereka:
* mengetahui kesuksesan keywords yang mereka pilih
* mengetahui animo/interest/insight target market mereka
* membayangkan keuntungan dan mungkin memperpanjang niat memasang iklan
1, 2, 3, 4, 5 yang sederhana itu kini memiliki daya tarik sekuat harta karun yang jadi incaran Jack Sparrow dari Pirates of The Caribbean.
Dari deret angka yang sama pula, para publisher bisa belajar banyak. Mulai dari mempelajari daya tarik publikasi mereka. Mengetahui apa yang diinginkan pembaca mereka dan yang paling penting adalah adanya bekal untuk melakukan proses upgrade untuk keseluruhan publikasi yang dimiliki. “Artikel mana yang paling menarik buat pembaca”, “artikel jenis apa yang paling cocok untuk iklan”, dengan bantuan angka pertanyaan-pertanyaan macam ini dapat dengan mudah dijawab.
———
Anantya VB
@anantya
Think.Web
Pemenang iPAD berkunjung ke SITTI
Selamat kepada para pemenang iPAD.
Hari ini kantor Sitti dapat kunjungan dari Dian dan Rahmawati, dua pemenang yang beruntung dari lima orang yang berhasil mendapatkan iPAD dengan cara memasang script SITTI di blog atau situs mereka.
Kita juga sempat foto mereka bersama iPAD barunya, kita tunggu kedatangan yang lain ke kantor SITTI yah
Dian Nurdianingsih
blog: http://kreatifmom.com
Rahmawati
blog: http://segudangcerita.blogspot.com
SITTI dude!
“Apa sih SITTI, Ndy?”
“SITTI is a contextual engine in Bahasa Indonesia, and given the time, SITTI will have all database, if not the biggest database in contextual Bahasa Indonesia, Nick!”
(Andy selalu menjawab saya dengan Bahasa Inggris, meskipun saya selalu membalasnya dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar)
Lanjut Andy:
“Listen to me, DUDE, Google might know Bahasa Indonesia… contextually like us do. But SITTI knows the relevancy of Bahasa Indonesia with Indonesians better than Google does.”
(Bagi Andy, laki-laki atau perempuan sinonim dengan “DUDE”)
“Ah… Jadi SITTI itu mengerti bagaimana kita menggunakan Bahasa Indonesia sebagaimana manusia Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia, bukan sebagaimana kamus menggunakan Bahasa Indonesia.”
“Yes! Exactly, not only that we know the semantics, grammar and all those sh*ts, but we know how Bahasa Indonesia is utilize by Indonesians.”
(Selipan kotor ringan dalam Bahasa Inggris juga kadang terdengar di sela-sela pembicaraan Andy yang intelektual)
—
Saya tidak terobsesi kepada kemampuan Bahasa Inggris Andy, meskipun terlihat demikian dengan mengabaikan informasi penting tentang kapabilitas SITTI dalam percakapan diatas.
Percakapan bilingual seperti itulah salah satu contoh “relevansi” yang dijelaskan Andy tentang perbedaan SITTI dengan Google.
Bingung?
Mari perlahan-lahan kita telaah.
Pertama, Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu untuk Andy Sjarif dan saya sendiri. Bagi Andy menjelaskan sesuatu yang cukup rumit dalam Bahasa Inggris kepada saya adalah jalan pintas ketimbang menjelaskan kepada saya sesuatu yang bunyinya seperti:
“SITTI adalah sistem kontekstual dalam Bahasa Indonesia yang mengerti akan… dst… dst… Zzzzz…”.
Kami berdua kuliah di Amerika Serikat dan pernah hidup disana selama 10-12 tahun lamanya. Setelah informasi mengenai latar belakang saya diproses di benak Andy, maka langkah yang konkrit untuk menjelaskan SITTI kepada saya adalah dengan menggunakan Bahasa Inggris. Dengan begitu Andy tidak perlu bersusah payah menjelaskan dengan mencari kosa kata dalam Bahasa Indonesia kepada saya.
Yang kedua, Andy menegaskan DUDE ke dalam percakapan, yang dalam Bahasa Indonesia berarti kawan, teman, atau sobat. Namun jarang kita dengar kalimat yang menggunakan: “Ayo, teman!” untuk translasi “Come on, dude!”. Namun dengan berjalannya waktu kita menemukan penggunaan: “Ayo, jo!” (ini yang rasanya klik dengan “Come on, dude!”)
Karena Andy tidak yakin bagaimana saya akan bersikap jika ia mengatakan: “Denger, jo…” dari “Listen to me, dude…” di sanalah Andy melakukan relevansi keduanya, karena dude lebih umum terdengar di telinga saya ketimbang “jo”. Intinya, Andy melakukan penekanan dude agar terdengar lebih ramah ketika menjelaskan konsep SITTI ke saya.
Dan yang terakhir ketika Andy menyelipkan sh*ts yang dalam konteks tidak berarti Andy adalah karakter yang kasar. Tetapi ia mengerti menggunakan frase “all those sh*ts…” sebagai pengganti “dan seterusnya” yang tidak mungkin ia gunakan ketika berbicara dengan orang yang berumur jauh di atasnya.
“All those sh*ts…” di sini bermakna ganda. Satu berarti “Nicko, you know what I’m talking about lhaa…” atau “Nicko, you’d never get it, stop wasting my f***** time!”
SITTI bukan hanya mengerti Bahasa Indonesia tetapi mengerti pola pikir dan gaya bahasa manusia Indonesia berkomunikasi dengan sesama manusia Indonesia.
—
Nicko Widjaja
nicko.widjaja@mindcode-id.com