Saya Bukan Mau Ngeluh, kok…
Belakangan ini, saya tak sengaja mendengar kekhawatiran dari seorang teman di kantor SITTI yang mengeluhkan masalah keluhan dari seorang klien yang mengatakan keburukan-keburukan tentang kantor saya di media sosial. Sebuah komentar di salah satu jejaring sosial kantor saya mengatakan mengenai betapa buruknya kinerja sebuah perusahaan yang bernama SITTI. Ia menyampaikan bahwa SITTI itu ribet masalah pembayaran, bahwa SITTI itu scam dan masih banyak lagi komentar buruk lain yang ia katakan tentang SITTI.
Kekhawatiran seorang teman ini membawa saya dan rekan-rekan di kantor menelusuri sang pemberi komentar tersebut. Dan saya tak terkejut ketika menemukan bahwa ternyata pendapatan yang ia terima sebagai publisher SITTI baru mencapai 8.000 rupiah.
Sebagai karyawan SITTI, saya tahu sekali bahwa ada peraturan yang tertulis jelas yang mengatakan bahwa pembayaran untuk publisher akan dilakukan ketika pendapatan mencapai angka minimal 100.000 rupiah. Dan terkait masalah pembayaran, ada banyak hal yang sering kali ditemukan menjadi faktor penyebab keterlambatan pembayaran. Terkadang keterlambatan pembayaran disebabkan oleh contohnya kesalahan pemasukan data, nomor rekening yang tidak lengkap atau kurang 1 digit, serta informasi yang tidak lengkap mengenai identitas yang di daftarkan sehingga menyebabkan kesulitan saat pengkonfirmasian data melalui bank.
Oke, tak akan pernah ada perusahaan kecap yang mengatakan bahwa produk kecapnya adalah kecap nomor dua. Bukan berarti saya membagus-baguskan SITTI atau mencari alasan maupun pembenaran. Namun, apakah orang-orang tersebut sudah melihat atau membaca ketentuan-ketentuaan yang ada di halaman pertama pada saat mereka melakukan pendaftaran? Pertanyaan basic kedua adalah, ketika sebuah perusahaan start up yang baru berusia 2 tahun dibandingkan dengan sebuah perusahaan raksasa yang sudah beoperasi belasan tahun dan memiliki unlimited resources, apakah ini merupakan perbandingan yang adil?
Jika ditinjau dari persentasenya, orang yang mengeluh boleh dibilang tidak lebih dari 5% dari total klien yang dimiliki oleh kantor kami, bukan berarti keluhan mereka kami abaikan, tetapi 95% sisanya toh terbukti masih puas dengan kinerja kami dan tidak melakukan complain.
Nobody is perfect and I’m not saying that we are a perfect company either. But there is one thing that we will always do: trying our best to be as close to perfection. Artinya, SITTI memang tidak akan pernah bisa memuaskan semua kliennya 100% namun paling tidak kita akan tetap berusaha untuk meminimalisasi kekurangan-kekurangan yang ada. Kita juga tidak tinggal diam dalam mencari terobosan-terobosan dan inisiatif-inisiatif yang pada akhrnya akan membuat seluruh klien SITTI tersenyum lebar.
CEO kami Andy Sjarif selalu mengatakan bahwa SITTI is an impossible company.
Well, it is. Tapi yang pasti, SITTI 100% Indonesia.
Sony S.
@ssoemarso
Senior Manager of Publisher, PT SITTI
maju terus sitti,
Saya Juga bukan mau ngeluh mas
Cuma heran doang :
#1. Saya heran sudah merubah profil (rek Bank) sejak Mei 2012 tapi sampai awal juli 2012 pembayaran tidak datang & ternyata sitti masih mencatat rek yg lama ??? Ko bisa padahal di dashboard sudah jelas saya rubah
#2. Saya heran bulan lalu saya sudah kontak sitti dan menginfokan masalah salah rek dan cuma mendapat jawaban untuk mengupdate profil saja TANPA harus kontak ke beriklan@sitti.zendesk.com
Kesimpulannya..
Saya cape nunggu uang masuk (CUMA 100 ribu lebih dikit) & harus menjelaskan hal yang sama berulang2
Silahkan cek
http://sitti.zendesk.com/requests/7488
http://sitti.zendesk.com/requests/7050
Makasih