SITTI dude!
“Apa sih SITTI, Ndy?”
“SITTI is a contextual engine in Bahasa Indonesia, and given the time, SITTI will have all database, if not the biggest database in contextual Bahasa Indonesia, Nick!”
(Andy selalu menjawab saya dengan Bahasa Inggris, meskipun saya selalu membalasnya dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar)
Lanjut Andy:
“Listen to me, DUDE, Google might know Bahasa Indonesia… contextually like us do. But SITTI knows the relevancy of Bahasa Indonesia with Indonesians better than Google does.”
(Bagi Andy, laki-laki atau perempuan sinonim dengan “DUDE”)
“Ah… Jadi SITTI itu mengerti bagaimana kita menggunakan Bahasa Indonesia sebagaimana manusia Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia, bukan sebagaimana kamus menggunakan Bahasa Indonesia.”
“Yes! Exactly, not only that we know the semantics, grammar and all those sh*ts, but we know how Bahasa Indonesia is utilize by Indonesians.”
(Selipan kotor ringan dalam Bahasa Inggris juga kadang terdengar di sela-sela pembicaraan Andy yang intelektual)
—
Saya tidak terobsesi kepada kemampuan Bahasa Inggris Andy, meskipun terlihat demikian dengan mengabaikan informasi penting tentang kapabilitas SITTI dalam percakapan diatas.
Percakapan bilingual seperti itulah salah satu contoh “relevansi” yang dijelaskan Andy tentang perbedaan SITTI dengan Google.
Bingung?
Mari perlahan-lahan kita telaah.
Pertama, Bahasa Indonesia adalah bahasa ibu untuk Andy Sjarif dan saya sendiri. Bagi Andy menjelaskan sesuatu yang cukup rumit dalam Bahasa Inggris kepada saya adalah jalan pintas ketimbang menjelaskan kepada saya sesuatu yang bunyinya seperti:
“SITTI adalah sistem kontekstual dalam Bahasa Indonesia yang mengerti akan… dst… dst… Zzzzz…”.
Kami berdua kuliah di Amerika Serikat dan pernah hidup disana selama 10-12 tahun lamanya. Setelah informasi mengenai latar belakang saya diproses di benak Andy, maka langkah yang konkrit untuk menjelaskan SITTI kepada saya adalah dengan menggunakan Bahasa Inggris. Dengan begitu Andy tidak perlu bersusah payah menjelaskan dengan mencari kosa kata dalam Bahasa Indonesia kepada saya.
Yang kedua, Andy menegaskan DUDE ke dalam percakapan, yang dalam Bahasa Indonesia berarti kawan, teman, atau sobat. Namun jarang kita dengar kalimat yang menggunakan: “Ayo, teman!” untuk translasi “Come on, dude!”. Namun dengan berjalannya waktu kita menemukan penggunaan: “Ayo, jo!” (ini yang rasanya klik dengan “Come on, dude!”)
Karena Andy tidak yakin bagaimana saya akan bersikap jika ia mengatakan: “Denger, jo…” dari “Listen to me, dude…” di sanalah Andy melakukan relevansi keduanya, karena dude lebih umum terdengar di telinga saya ketimbang “jo”. Intinya, Andy melakukan penekanan dude agar terdengar lebih ramah ketika menjelaskan konsep SITTI ke saya.
Dan yang terakhir ketika Andy menyelipkan sh*ts yang dalam konteks tidak berarti Andy adalah karakter yang kasar. Tetapi ia mengerti menggunakan frase “all those sh*ts…” sebagai pengganti “dan seterusnya” yang tidak mungkin ia gunakan ketika berbicara dengan orang yang berumur jauh di atasnya.
“All those sh*ts…” di sini bermakna ganda. Satu berarti “Nicko, you know what I’m talking about lhaa…” atau “Nicko, you’d never get it, stop wasting my f***** time!”
SITTI bukan hanya mengerti Bahasa Indonesia tetapi mengerti pola pikir dan gaya bahasa manusia Indonesia berkomunikasi dengan sesama manusia Indonesia.
—
Nicko Widjaja
nicko.widjaja@mindcode-id.com
sangat membantu bos…