Women Empowerment Di Era Social Media
Kalau Ibu Kartini hidup saat ini, berapa ya follower Twitter-nya? Apakah Facebook Fan Page beliau akan penuh dengan LIKE yang jumlahnya beribu-ribu? Apakah kelas-kelas beliau akan menjadi saingan @pasarsapi yang beken dengan akademi berbaginya yang sudah tersebar di seluruh Indonesia?
Kita balik, kalau Luna Maya dan Ariel Peterpan hidup di zaman Ibu Kartini, saya yakin aktivitas mereka yang di video itu nggak akan mendapat perhatian 421 juta penonton dalam dua minggu (jangan sok lupa deh
). Paling parah, ketangkep hansip zaman itu dan dipaksa kawin…
Apa hubungan kedua contoh diatas dengan women empowerment? Nggak ada sih… ini namanya kehabisan ide menulis.
Saya hanya tahu bahwa teknologi dan media sosial adalah “great equalizer” antar gender. Zaman purbakala, karena lebih kuat secara fisik, berburu banyak dilakukan oleh laki-laki. Di sisi lain, para perempuan menunggu di rumah (atau di gua). Sekarang, seorang yang badannya kekar dan berotot seperti Ade Rai dekalipun tidak akan mungkin menang bersaing dengan ibu Hajah mungil @mrshananto dalam konteks berjualan lewat Twitter. Selain memang cerewet, @mrshananto itu followersnya ada 60.000!
Pernah dengar @ayusoegianto? Dia dan teman-temannya di @komuniaksi mencetuskan ide bahwa Pancasila bisa divisualkan di Youtube dalam waktu dua menit. Visualisasi ini meledak dan hasilnya; jutaan anak muda yang sudah lupa Pancasila memiliki kedekatan dengan konsep mahakarya itu tanpa biaya promosi sama sekali.
Ibu saya, dr. Utami Roesli yang pakar ASI itu pernah saya bukakan akun Twitter. Beliau bilang ke saya bahwa beliau nggak ngerti pake Twitter (alhasil nggak pernah digunakan). Namun 24 jam setelah saya buka akun beliau, sudah ada lebih dari 1000 followers. Beliau, yang selalu berjuang untuk hak para bayi untuk mendapakan ASI, berseberangan dengan suatu industri yang sangat tidak bertanggung jawab. Indusri ini menebarkan triliunan rupiah untuk membohongi ibu-ibu tentang produk mereka.
Ibu saya, seorang diri, tanpa Twitter dan Facebok, bergerak cepat di dunia digital karena ibu-ibu di dunia tersebut bisa mendapat informasi dari ibu saya tanpa harus bertemu langsung dengan beliau. Hari ini saja ada 700 orang di Twitter yang menyebut nama ibu saya dan bercerita tentang keuntungan ASI.
Sebenarnya tulisan saya bulan ini bisa diselesaikan dalam satu paragraf saja: @pasarsapi, @mrshananto, @ayusoegianto, dan ibu saya, dr. Utami Roesli, adalah 4 contoh dari jutaan wanita yang sekarang berjuang dalam dunianya masing-masing. Kita lupakan saja terminologi “women empowerment”. They are powerful persons. Titik. Period. Stop. Nggak usah dipanjang-panjangin lagi and our world is better because they are in it and they do what they do everyday.
For that, on behalf of every man in this nation, I thank you all.
@AndySjarif
CEO SITTI
As posted on Market+ edisi April 2012.
bner skali sodara admin, ibu yg melahirkan n mendidik kta smpai bsa sperti ini