Klinting.. klinting.. klinting!

Sep 28, 2010 Posted Under: Blog Sitti   Read More

Untuk yang pernah belajar marketing pasti cukup familiar dengan prinsip 3P atau bahkan 7P. Namun diantara semua deret kata yang diawali dengan huruf P tersebut, 2 kata yang berhasil menembus dinding kepala saya adalah Place dan Promotion. Satuan kata yang bila diingat kembali memang sangat penting. Kenapa? Karena “place” inilah yang menjadi tempat awal penarik tamu (traffic) masuk ke toko/tempat jualan/etalase yang kita punya. Demikian juga dengan promotion, salah satu fitrah promosi adalah untuk mendatangkan tamu (traffic).

Tinggi rendahnya kunjungan tamu ke toko/etalase/tempat jualan yang kita miliki menentukan laku/tidaknya barang yang sedang kita jual. Lalu, apa hubungannya konsep marketing dengan posisi kita sebagai publisher yang ingin memasang iklan?

Jangan pindah window dulu, karena jawabannya sebenarnya sangat sederhana. Semakin banyak traffic/visitor yang kita miliki, yang datang ke etalase online (blog) kita, maka secara teori management kita memiliki kesempatan yang lebih besar dalam mendapatkan konversi/pembeli, atau dalam kasus sebagai publisher, orang yang melihat dan melakukan klik pada iklan kita.

Permasalahan paling umum adalah, bagaimana memastikan bahwa etalase kita didatangi banyak orang? Etalase bisa ramai, tapi berapakah yang beneran masuk ke dalam toko? Jawabannya cuma satu: pantau etalase kita! Pernah kan masuk ke sebuah toko, dan sebuah bel kecil berbunyi “klinting…klinting…klinting”? Logika yang sama sebenarnya berlaku juga bagi etalase online kita. Yang perlu kita lakukan adalah memasang/mempergunakan traffic tracking code. Sehingga setiap kali ada orang yang masuk ke blog kita, bel kecil berbunyi dan mencatat kunjungan yang terjadi.

Gampang kan? Semakin sering bel kita berbunyi, semakin besar kesempatan jualan kita laris manis. Tapi bila bel kecil kita tiba-tiba “mute”, kita bisa berjaga-jaga dan mengusahakan agar bel kecil tersebut tetap berdenting. Bagaimanapun, Kita tetap butuh traffic agar barang jualan Kita “dilirik” atau bahkan “dibeli” orang.

Tugas yang sedikit lebih berat setelah pemasangan bel kecil tadi sebenarnya adalah melihat sejauh mana orang yang berkunjung pada akhirnya melakukan pembelian terhadap apapun yang ditawarkan dalam etalase kita. Penasaran? Sabar, dalam pembahasan selanjutnya kita akan masuk ke bagaimana serunya analogi kamera cctv atau barcode dalam pengukuran analytics untuk etalase online kita.

Tapi sebelum melangkah lebih jauh, pastikan etalase kita sudah memiliki bel kecil penghitung traffic. Klinting… klinting… klinting… Selamat! Satu orang tercatat melakukan visit ke etalase kita!

Anantya

Guest blogger

www.think.web.id

Post to Twitter

SITTI tuh apa sih?

Sep 28, 2010 Posted Under: Blog Sitti   Read More

Beberapa bulan terakhir, pembicaraan dibawah ini seperti kaset rusak yang berulang-ulang dalam hidup saya:
“Sitti itu apa sih??”
“Mesin”
“Terus bisa ngapain?”
“Bisa analisa dan mengerti bahasa Indonesia”
“???”
**

Sejak 20 Mei tahun ini waktu kita launch SITTI, kayaknya hidup saya selalu berhubungan dengan SITTI. Terkadang, karena sering sekali ditanyakan, saya hanya menjawab singkat seperti itu. Secara mendalam, SITTI, untuk saya lebih dari hanya sebuah mesin.

Untuk saya, SITTI adalah jembatan. Untuk yang punya hobby nulis blog atau punya situs sendiri, SITTI bisa membuat hobby kita jadi sumber pendapatan. Bayangkan, kita punya lebih dari 2 juta blogger di Indonesia. Mayoritas orang-orang bertalenta ini menulis secara kreatif sebagai hobby. Bukan profesi. Kenapa? Karena belum ada metode yang secara efektif dapat membuat tulisan mereka menjadi sumber pendapatan. SITTI bisa menjadi jembatan untuk ini.

SITTI adalah jembatan.

Banyak perusahaan di Indonesia, besar dan kecil yang punya penyakit kronis PDTNTLM atau “pingin-ke-digital-tapi-nggak-tau-lewat-mana”. Bayangkan, populasi Internet sudah mencapai 38 juta dengan perkembangan sebesar 1150% dalam 9 tahun terakhir. Internet adalah salah satu medium yang dikejar oleh para pengiklan. Tapi sampai sekarang, beriklan di Internet adalah sebuah aktifitas yang belum dapat diukur secara efektif. SITTI, menjadi jembatan untuk ini.

Benar, SITTI memang hanya sebuah mesin. Mesin yang telah disekolahkan. Mesin yang mengerti bahasa Indonesia yang baik, benar, yang 4lay, yang nyleneh, bahkan yang slang jadul sekalipun. Dengan kemampuan ini, SITTI menjadi “biro jodoh” para pengiklan dan para pemilik situs. Bayangkan, kalau ada 50.000 blog yang menulis 50.000 artikel yang berbeda. Ada yang menulis tentang sepatu, mobil, lapangan bola, bahkan Luna Maya. Bayangkan, bahwa dalam waktu 1 detik, SITTI bisa membaca semua artikel ini lalu mencari “jodoh” iklan yang tepat untu disajikan kepada mata yang memang tertarik. Dalam satu detik. Bayangkan.

Inilah SITTI. Kalau Google Adsense® punya dunia, SITTI punya Indonesia. Dan hanya Indonesia.

Jadi untuk yang suka ngeblog, pasang script SITTI dari situs ini (5 menit jadi), cantumkan nomor rekening dan berkreasilah. Menulislah. Barkaryalah. Tentang sepatu, tentang bola, tentang Luna. Terserah.

SITTI akan menjadi mesin sibuk yang mencari iklan di blogmu. Kalau ada orang yang membaca dan mengklik iklan tersebut, maka kita akan mendapatkan bayaran dari SITTI. Mungkin diawali dengan jumlah kecil. Tapi hari demi hari, semakin banyak tulisanmu, semakin pintar mesin SITTI, semakin banyak “jodoh” iklanmu.

Menulislah. Berkarya. Berkreasi. We pay you. It’s that simple.

**
Pembicaraan kaset rusak satu lagi selama ini:
“Kenapa SITTI sih namanya? Singkatan apa SITTI itu?”
“Nggak ada.”
“Loh terus namanya SITTI dari mana dong?”
“Dari Sitti Nurbaya.”
“???”

Selamat berkarya.

Andy Sjarif
Founder SITTI

Post to Twitter