RA Kartini 2.0
Sarah Lacy bukan nama yang dikenal orang banyak, kecuali jika Anda bekerja di dunia teknologi seperti saya. Sarah Lacy adalah seorang wanita Amerika yang bisa dilbilang sangat powerful di dunia teknologi. Dia adalah Editor At Large dari sebuah portal di Silicon Valley yang bernama Techcrunch.com. Techcrunch itu sebuah portal yang menjadi kiblat orang2 teknologi di dunia karena berita dan tulisan-tulisannya yang mendalam. Orang-orang seperti Steve Jobs, CEO dari Google, Yahoo dan para venture capitalist di sana, semua baca Techcrunch.
Saya kenal sama Sarah karena dia pernah juga menulis tentang SITTI (kalau mau baca artikelnya, Google aja “andy sjarif techcrunch”). Minggu lalu dia ada di Indonesia dan kita berjanji untuk ketemuan. Saya agak kaget karena dia ternyata sedang hamil 4 bulan. Kehadirannya di sini adalah karena ia diminta berbicara di 7 kota di Indonesia tentang teknologi dan bisnis. Keliling 7 kota di Indonesia dalam kondisi hamil 4 bulan datang jauh dari Amerika, wow, saya sangat kagum dengan wanita satu ini. Ketika sedang makan malam sama ibu hamil satu ini (kita makan kepiting saos pedas! Pernah liat bule makan kepiting saos pedas nggak? Scary! Hahaha….) saya menyadari satu hal: “technology is the great equalizer between gender”.
Di jaman purbakala kayaknya agak susah untuk wanita bersaing dengan laki-laki dalam hal berburu dan mencari makan, arena itulah mungkin para wanita di rumah mempersiapkan makan sedangkan laki-laki berburu. Namun sekarang dengan teknologi, kemampuan laki-laki tidak bisa dikatakan lebih lagi karena semuanya bisa dilakukan tanpa otot. Bayangkan seorang Sarah Lacy yang karena memiliki wawasan di bidang tekologi, bisa menjadi penulis buku dan editor portal teknologi terkemuka sehingga sang suami bisa kuliah lagi dan Sarah menjadi pencari nafkah keluarga mereka.
Sarah menulis, di-upload di Techcrunch.com, dan jutaan orang membaca tulisannya. Saya kasih contoh lokal. Inge, istri teman saya, selama 13 tahun bekerja sebagai seorang karyawati. Suatu hari ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Sekarang, karena iseng, ia jualan barang-barang bekas di Facebook. Tiga bulan pertama penghasilannya sudah sama dengan gaji dia selama satu tahun. Impressive! Inge menggunakan teknologi sebagai fondasi untuk menghasilkan pendapatan yang lebih dari pekerjaaan dia sebelumnya. Inge juga seorang wanita.
Dunia teknologi membuka pintu dan menghancurkan “glass ceiling” yang sebeumnya terpasang ketat untuk wanita. It’s the great equalizer between gender. Lewat tulisan ini saya ingin memberikan salut saya ke wanita-wanita seperti Sarah Lacy, Inge dan mereka yang sudah menghancurkan glass ceiling demi kesetaraan gender. Saya memberi hormat saya kepada mereka yang saya sebut sebagai para RA Kartini 2.0.
Selamat Hari Kartini!
@AndySjarif
CEO SITTI
As posted on www.marketplus.co.id
http://www.marketplus.co.id/2011/04/27/ra-kartini-20/